IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI

Oleh: Sutoyo, S.S., M.Pd.*

Selain Profil Pelajar Pancasila, salah satu perubahan paradigma belajar dalam Kurikulum Merdeka adalah Pembelajaran Berdifirensiasi. Sekilas saat mendengar istilah pembelajaran berdiferensiasi, jiwa kepo kita pun meronta-ronta. Meronta ingin tahu seperti apa  sih konsep pembelajaran berdiferensiasi itu. Apakah seseram makna umum dari istilah diferensiasi yang ada dalam pola pikir kebanyakan orang? Umumnya orang, termasuk saya sebelumnya memaknai berdiferensiasi sebagai membedakan. Yang membuat kita ngeri adalah di satu kelas saja ada 36 murid yang berbeda. Berarti kita harus melayani 36 murid tersebut dengan 36 materi dan gaya berbeda pula. Jika seorang guru mengajar 2 jam pelajar di  14 rombel maka jika tiap rombel berisi 36 murid, maka akan terdapat 504 murid yang berbeda yang harus dilayanai dengan cara berbeda pula. Guru bisa mati berdiri jika begini.

Tulisan singkat ini beruapaya meluruskan miskonsepsi tersebut. Setidaknya, semoga tulisan ini mampu memberi jawaban dari berbagai pertanyaan yang sebelumnya berkecamuk dalam pemikiran banyak orang terkait konsep pembelajaran berdiferensiasi. Salah satunya ya tadi, “Bagaimana mungkin kita mampu melayani 504 murid di 14 rombel dengan layanan berbeda untuk setiap murid?”  Setelah mempelajari konsep pembelajaran berdiferensiais serta mencoba mengimplemenstasikannya di kelas, saya pun mulai mengerti bahwa tidak harus membuat bahan ajar yang berbeda sebanyak murid yang diampu. Memang butuh   diferensiasi atau pembendaan-pembedaan tertentu, namun tidak harus sebanyak murid juga. Secara singkat pembelajaran berdiferensiasi dapat dimaknai sebagai sebuah upaya yang dilakukan guru di kelas untuk menyesuaikan proses pembelajaran dengan membuat serangkaian keputusan logis yang dapat memenuhi kebutuan setiap murid di kelas tersebut.

Pemikiran saya berubah seiring pengetahuan saya tentang konsep pembelajaran berdiferensiasi. Perubahan pemikiran tersebut berkontribusi terhadap pemahaman saya terkait implementasi pembelajaran berdiferensiasi. Paling kurang saya mulai untuk membuat perencanaan pembelajaran bermuatan diferensiasi, kemudian dicoba untuk diterapkan dalam pemebalajaran. Pemebelajaran diferensiasi memang suadh terlihat dalam RPP atau modul ajar yang dirancang guru.

Pembelajaran berdiferensiasi memang menuntut guru untuk dapat melayani semua murid yang berbeda-beda di kelas, namun pada parktiknya guru dapat melayaninya dengan cara mengelompokkan murid yang memiliki kesamaan dalam hal tertentu, misalnya minat, bakat, hobi, kecerdasan, rencana setelah lulus, dll. Oleh karena itu para guru seharusnya mengetahui para muridnya sejak awal yang dapat diketahui melalui informasi tentang murid tersebut.  

Upaya mengimplementasikan pembelajaran berdiferensiasi dimulai dengan upaya menemukenali murid-murid terlebih dahulu. Kita memang tahu bahwa murid-murid di kelas berasal dari latar belakang yang beraneka ragam dan semua harus dilayani. Oleh karena itu kita harus mengetahuinya berdasarkan data dan fakta, bukan hanya opini belaka. Data dan fakta diferensiasi para murid dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain: melakukan tes diasnostik, membaca hasil belajar siswa di fase sebelumnya, membaca biodata murid dari TU, mengetahui gaya belajar murid, dan lain-lain.

Salah satu caranya yakni mengetahui gaya belajar para murid. Gaya belajar murid dapat diketahui melalui pengisian Instrumen Gaya Belajar Murid.  Salah satunya adalah instrumen dari Universitas Terbuka. Hasil pengisian instrumen akan meperlihatkan data tentang gaya belajar murid. Kita dapat mengelompokkannya menjadi murid bergaya belajar visual, auditori, dan kinestetik. Pengelompokan ini membantu guru untuk lebih menyederhanakan penuntunan kepada murid secara berdiferensiasi.

(Gambar: kegiatan membaca untuk murid bertipe visual)

(Gambar: presentasi hasil diskusi untuk siswa bertipe auditori)

Pelayanan terhadap diferensiasi belajar dapat dilakukan pada aspek konten, proses, dan produk.  Diferensiasi konten dapat diakakukan dengan penyediaan bahan ajar yang bervariatif sesuai tipe belajar siswa yang visual (buku, poster, infografis digital, gambar, ilustrasi, tabel dan grafik, dll), auditori (rekaman suara, video, dll) dan kinestetis (gerak). Diferensiasi konten juga termasuk pemberian berbagai contoh berbeda untuk satu materi tertentu. Diferensiasi proses terkait dengan bagaimana pembelajaran dilakukan secara bervariatif untuk mengakomodasi ketiga tipe belajar siswa tersebut, misalnya dengan penerapan model pembelajaran yang bervariasi seperti ada diskusi, performansi, presentasi, dan lai-lian, tidak monoton berceramah sepanjang proses pembelajaran. Sedangkan diferensiasi produk dapat dilakukan dengan membebaskan murid untuk menghasilkan produk tertentu dalam berbagai pilihan yang nyaman bagi murid, misalnya media pengiriman tugas yang dapat dilakukan melalui tulisan tangan, diketik, infografis digital, rekaman suaran, video, blog, situs, dan sebagainya. Bukan medianya yang dinilai, namun isinya.

(Gambar: Pembelajaran dengan QR Code di luar ruangan untuk murid bertipe kinestteis)

Ketika pembelajaran berdiferensiasi dicoba untuk diimplementasikan di kelas, tentu cukup banyak tantangannya. Beberapa tantangan antara lain murid yang belum terbiasa menerima pembelajaran berdiferensiasi serta belum semua guru memiliki pandangan yang sama terkait implementasi pembelajaran berdiferensiasi ini. Akibatnya, masih ada ditemukan asumsi yang kurang menyenangkan terhadap upaya melakukan pembelajaran berdiferensiasi ini. Diperlukan sosialisasi lebih intens agar lebih banyak mendapat dukungan dari berbagai pihak di sekolah.

Implementasi perubahan paradigma belajar berupa pembelajaran berdiferensiasi ini memberi efek para murid yakni kemampuan murid dalam  mengoptimalkan bakat dan minatnya. Implementasi pembelajaran berdiferensiasi ini akan mampu mendukung upaya pencapaian tujuan pembelajaran secara lebih optimal. Hal ini dapat terjadi karena setiap siswa relatif terlayani dengan baik karena pembelajaran menuntun para murid sesuai bakat dan mintanya yang mungkin berbeda-beda. Praktiknya dapat dilakukan dengan pengelompokan sebagai cara penyederhanaan layanan akan diferennsiasi murid. Dengan demikian, akan tercipta budaya positif di sekolah yakni semua murid dapat belajar secara merdeka senyaman mereka. Di sisi lain guru dapat memberi pelayan berbeda untuk setiap siswa yang berbeda-beda.

Jika kita menemukan  banyak murid yang keluar permisi dengan alasan ke toilet atau alasan lain saat pembelajaran, jangan-jangan mereka sedang memberitahu kita secara tidak langsung bahwa mereka kurang sesuai dengan pembelajaran yang kita lakukan. Saatnya untuk mengimplementasikan pembelajaran berdiferensiasi sebagai altenatif jawabannya. (Jambi, November 2022)  

*Penulis adalah Guru SMA Negeri 3 Kota Jambi

Related Posts